Selasa, 09 Juli 2013

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH


BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

I. DEFINISI
Secara bahasa,
كتب adalah bentuk jamak dari كتا ب . Sedangkan kitab adalah mashdar yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang ditulisi didalamnya. Ia pada awalnya adalah nama shahifah (lembaran) bersama tulisan yang ada di dalamnya.
Sedangkan menurut syariat,
كتب adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikannya kepada manusia dan yang membacanya bernilai ibadah.

II. BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB
Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah salah satu rukun iman. Maksudnya yaitu membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah s.w.t. mempunyai kitab-kitab yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas. Dan bahwasanya ia adalah kalam Allah yang Ia firmankan dengan sebenarnya, seperti apa yang Ia kehendaki dan menurut apa yang Ia ingini.
Allah berfirman,
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Ia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya “(An-Nahl: 2)
Iman kepada-Nya adalah wajib, secara ijmal (global) dalam hal yang diijmalkan dan secara tafshil (rinci) dalam hal yang dirincikan.
Dalil-dalil atas Kewajiban Beriman Kepada Kitab-kitab:
Pertama: Dalil-dalil beriman kepadanya secara umum
1 - Firman Allah dalam surat al-Baqarah,
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dan Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 136).
Segi istidlalnya adalah: Allah s.w.t. memerintahkan orang-orang mukmin agar beriman kepada-Nya dan kepada apa yang telah Ia turunkan kepada mereka melalui nabi mereka, Muhammad yaitu al-Qur’an, dan agar beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada para nabi dan Tuhan mereka tanpa membedabedakan antara satu dengan yang lain, karena tunduk kepada Allah serta membenarkan apa yang diberitakan-Nya.
2 - Firman Allah dalam ayat lainnya,
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dan Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dan rasul-rasulNya,’ dan mereka mengatakan, ‘Ainpunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (A1-Baqarah: 285).
Ayat ini menjelaskan sifat iman Rasul dan iman para mukminin serta apa yang diperintahkan kepada mereka berupa iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan para rasul, tanpa membeda-bedakan. Sehingga kufur kepada sebagian bererti kufur kepada mereka semuanya.
3 - Firman Allah dalani surat an-Nisa,
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah tururkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepda Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 136).
Segi istidlalnya adalah Allah s.w.t. memerintahkan manusia agar beriman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada kitab-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah yakni al-Quran, juga kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Qur’an. Kemudian Allah menyamakan kufur kepada malaikat, kitab-kitab, para rasul dan Hari Akhir dengan kufur kepada-Nya.
4 - Sabda Rasullullah dalam hadits Jibril tentan iman,
“Yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhir dan beriman kepad takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. al-Bukhari, 1/19- 20 dan Muslim, 11/37)
Maka Rasulullah menjadikan iman kepada kitab-kital Allah sebagai salah satu rukun iman.
Kedua: Wajib beriman kepada kitab-kitab secara rinci
Kita wajib mengimani secara rinci kitab-kitab yang sudal dise-butkan namanya oleh Allah, yakni al-Qur’an dan kitabkitab yang lain yaitu:
a. Shuhuf lbrahim dan Musa a.s.. Allah berfirman,
“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (An-Najm: 36-37).
“Sesungguhnya mi benar-benar terdapat dalam shuhuf (lembaran- lemba ran) yang dahulu, (yaitu) shuhuf Ibrahim dan Musa.” (AlAla: 18-19).
b. Taurat, yaitu kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat yang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) “(Al-Maidah: 44)
“Allah, tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan al-K itab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Qur’an), menjadikan petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali Imran: 2-4).
c. Zabur, yaitu kitab yang Allah turunkan kepada Nabi Daud a.s. Allah berfirman,
“...dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An-Nisa: 163)
d. Injil, yaitu kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Allah berfirman,
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Irail) dengan ‘Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, iaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, iaitu kitab Taurat.
Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Maidah: 46).
Beriman kepada kitab-kitab yang telah Allah sebutkan di dalam al-Quran adalah wajib. Yakni beriman bahwa masing-masing adalah kitab Allah yang di dalamnya terdapat nur dan hidayah yang Dia turunkan kepada para rasul yang telah Dia sebutkan. Semuanya, sebagaimana al-Qur’an mengajak kepada pengesaan Allah dalam ibadah. Semua kitab itu sama dalam hal ushul sekalipun berlainan dalam syariatnya.
Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu “(An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami mewahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekelian akan Aku’.” (al-Anbiya’: 25)
Al-Quran menjelaskan bahwa semua rasul mengajak kaumnya kepada tauhid. Allah menceritakan kepada kita ucapan mereka,
“...sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan yang haq bagimu selain dari-Nya.” (Al-Araf: 65, 73, 85)
Rasulullah s.a.w. bersabda,
“Para nabi itu adalah saudara se-ayah, ibu mereka berlainan, tetapi din mereka adalah satu.” (HR. Muslim, IV/1837).
Ketiga: Kitab-kitab yang ada pada ahli kitab
Sesungguhnya apa yang ada di tangan ahli kitab yang mereka namakan sebagai kitab Taurat dan Injil dapat dipastikan bahwa ia termasuk hal-hal yang tidak benar penisbatannya kepada para nabi Allah. Maka tidak boleh dikatakan bahawa Taurat yang ada sekarang adalah Taurat yang dahulu diturunkan kepada Nabi Musa Juga Injil yang ada sekarang bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa. Jadi, keduanya bukanlah kedua kitab yang kita diperintahkan untuk mengimaninya secara rinci. Dan tidak benar mengimani sesuatu yang ada dalam keduanya sebagai kalam Allah, kecuali yang ada dalam al-Quran lalu dinisbatkan kepada keduanya.
Kedua kitab tersebut telah dinasakh (dicabut masa berlakunya) dan diganti oleh al-Quran. Allah menyebutkan terjadinya pengubahan dan pemalsuan terhadap keduanya di lebih dan satu tempat dalam al-Quran.
Allah berfirman,
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Al-Baqarah: 75).
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dan tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dan apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan di antara orang-orang yang mengatakan, Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi (mereka) sengaja melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberikan peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai Hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberikan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan. Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya.” (Al-Maidah: 13-15).
Di antara bentuk pengubahan yang dilakukan ahli kitab alah penisbatan anak kepada Allah. Mahasuci Allah dan yang demikian, mereka mengatakan,
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang-orang Nasrani berkata, ‘Al-Masih itu putera Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu.
Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah: 30).
Begitu pula permusuhanan orang-orang Nasrani terhadap Nabi serta perkataan mereka bahwa Allah adalah salah satu oknum dari tiga unsur (atau yang lebih dikenal dengan kepercayaan/i’tiqad ‘trinitas’, pent.)
Allah berfirman,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah ialah ‘al-Masih putera Maryam’, padahal al-Masih (sendiri) berkata, ‘Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan selain dari Allah Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”
(Al-Maidah 72-73).
Allah menjelaskan bahwa mereka telah mengubah firman-Nya. Mereka melalaikan peringatan-peringatan Allah serta menisbatkan kepada-Nya apa yang Allah Mahasuci dan bersih danpadanya. Mereka menuhankan yang lain-Nya bersama-Nya, dan berbagai hal lain yang mereka susupkan ke dalam kitab-kitab mereka. Dengan demikian tidak sah dan tidak benar penisbatan kitab-kitab ini kepada Allah.
Di samping itu ada beberapa hal yang lebih menguatkan ketidak-benaran penisbatan ini kepada Allah di samping apa yang dinyatakan dalam al-Qur’an iaitu antara lain:
a. Sesungguhnya apa yang ada di tangan ahli kitab yang mereka yakini sebagai kitab suci adalah bukan naskah (nuskhah) yang ash, akan tetapi teiemahannya.
b. Bahwa kitab-kitab itu telah dicampuni dengan perkataan para ahli tafsir (mufassir) dan para ahli sejarah (muarrikh), juga orang-orang yang mengambil kesimpulan hukum dari sejenisnya.
c. Tidak benar penisbatannya kepada rasul, karena tidak mempunyai sanad yang dapat dipercaya (dipertanggungjawabkan). Taurat ditulis sesudah Nabi Musa berselang beberapa abad. Adapun Injil-injil yang ada, semuanya dinisbatkan kepada pengarang atau penulisnya, lagi pula telah dipilih dari Injil-injil yang bermacam-macam.
d. Kepelbagaian naskah serta kontradiksi yang ada di dalamnya menunjukkan secara yakin atas perubahan dan pemalsuannya.
e. Injil-injil itu berisi akidah-akidah yang rusak dalam menggambarkan Sang Pencipta dan menyifati-Nya dengan sifat-sifat kekurangan. Begitu pula menyifati para nabi dengan sifat-sifat kotor. Karena itu orang Islam wajib meyakini bahwa kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukanlah kitab yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, bahkan kitab-kitab itu adalah karangan mereka sendiri. Maka kita tidak membenarkan sesuatu darinya kecuali apa yang dibenarkan oleh al-Quran yang mulia dan as-Sunnah yang disucikan.
Dan kita mendustakan apa yang didustakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Kita tidak berkomentar tentang sesuatu yang tidak dibenarkan atau didustakan oleh al-Quran, karena ia mengandungi kemungkinan benar atau dusta. Wallahu a’lam!
Poskan Komentar